Anak Kita Pakai Jilbab di Sekolah, Lepas di Luar - Siapa yang Gagal?
Fenomena yang Sudah Terlalu Biasa untuk Diabaikan
Fenomena "buka-tutup" jilbab yang dilakukan remaja putri sudah menjadi suatu hal yang biasa terjadi. Remaja putri yang melakukan "buka-tutup" jilbab pada umumnya bersekolah di sekolah berbasis agama yang menjadikan jilbab sebagai seragam. Ketika di sekolah, mereka menggunakan jilbab, namun saat berada di luar lingkungan sekolah, remaja-remaja ini melepas jilbabnya dan tampil beda.
Ini bukan fenomena satu atau dua anak. Ini pola yang berulang di ratusan - bahkan ribuan - sekolah Islam di seluruh Indonesia. Dan yang membuat kita perlu berhenti sejenak adalah ini: penggunaan jilbab oleh siswi mungkin tidak dipahami secara substansial, melainkan hanya sebatas formalitas tata aturan berpakaian di sekolah ataupun ikut-ikutan.
Jilbab dipakai bukan karena diyakini. Bukan karena dicintai. Tapi karena diwajibkan. Dan kewajiban tanpa pemahaman akan selalu luruh begitu pengawasan hilang.
Akar Masalahnya: Jilbab Diajarkan sebagai Aturan, Bukan sebagai Identitas
Fenomena buka-tutup jilbab terjadi karena kebiasaan dalam keseharian mereka yang tidak memakai jilbab lalu dipaksakan untuk memakai jilbab sehingga menimbulkan rasa ketidaksiapan bagi diri mereka. Didukung oleh lingkungan pergaulan, tren, fashion, dan media sosial yang sangat memengaruhi perkembangan remaja, mereka merasa terkekang oleh aturan tersebut, sehingga melakukan pemberontakan diri terhadap aturan yang selama ini dianggap menjadi penghambat kebebasan.
Di sinilah letak masalah paling mendasar yang sering kita lewatkan.
Kita mengajarkan jilbab sebagai aturan sekolah - bukan sebagai bagian dari identitas seorang Muslimah. Kita mengajarkan cara memakai jilbab, tapi tidak cukup mengajarkan mengapa jilbab itu indah, bermakna, dan menjadi bentuk ketaatan yang memberdayakan - bukan membelenggu.
Memakai jilbab atau baju panjang hanya dipahami sebagai aturan sekolah oleh sebagian anak. Oleh karena itu guru perlu memberikan pemahaman bahwa adab berpakaian Islami adalah bentuk ibadah dan identitas seorang Muslim.
Fenomena "buka-tutup" jilbab yang dilakukan remaja putri sudah menjadi suatu hal yang biasa terjadi. Remaja putri yang melakukan "buka-tutup" jilbab pada umumnya bersekolah di sekolah berbasis agama yang menjadikan jilbab sebagai seragam. Ketika di sekolah, mereka menggunakan jilbab, namun saat berada di luar lingkungan sekolah, remaja-remaja ini melepas jilbabnya dan tampil beda.
Ini bukan fenomena satu atau dua anak. Ini pola yang berulang di ratusan - bahkan ribuan - sekolah Islam di seluruh Indonesia. Dan yang membuat kita perlu berhenti sejenak adalah ini: penggunaan jilbab oleh siswi mungkin tidak dipahami secara substansial, melainkan hanya sebatas formalitas tata aturan berpakaian di sekolah ataupun ikut-ikutan.
Jilbab dipakai bukan karena diyakini. Bukan karena dicintai. Tapi karena diwajibkan. Dan kewajiban tanpa pemahaman akan selalu luruh begitu pengawasan hilang.
Akar Masalahnya: Jilbab Diajarkan sebagai Aturan, Bukan sebagai Identitas
Fenomena buka-tutup jilbab terjadi karena kebiasaan dalam keseharian mereka yang tidak memakai jilbab lalu dipaksakan untuk memakai jilbab sehingga menimbulkan rasa ketidaksiapan bagi diri mereka. Didukung oleh lingkungan pergaulan, tren, fashion, dan media sosial yang sangat memengaruhi perkembangan remaja, mereka merasa terkekang oleh aturan tersebut, sehingga melakukan pemberontakan diri terhadap aturan yang selama ini dianggap menjadi penghambat kebebasan.
Di sinilah letak masalah paling mendasar yang sering kita lewatkan.
Kita mengajarkan jilbab sebagai aturan sekolah - bukan sebagai bagian dari identitas seorang Muslimah. Kita mengajarkan cara memakai jilbab, tapi tidak cukup mengajarkan mengapa jilbab itu indah, bermakna, dan menjadi bentuk ketaatan yang memberdayakan - bukan membelenggu.
Memakai jilbab atau baju panjang hanya dipahami sebagai aturan sekolah oleh sebagian anak. Oleh karena itu guru perlu memberikan pemahaman bahwa adab berpakaian Islami adalah bentuk ibadah dan identitas seorang Muslim.